[FICLET] The Greatest Love – Khuntoria Couple

Author : Pinky Girl a.k.a r13eonni
Main Cast :
Nichkhun 2PM, Victoria f(x)
Support Cast :
Find it by yourself..;)
Genre :
Life, Romance
Rating :
PG , T
Type :
One Shoot
Disclaimer :
Mian yah, kalo ceritanya ga nyambung ato apa, tapi mohon komentranya yah…gomawo..^^

 

Aku menatap dia, yang sedang terbaring tidak berdaya. Seperti orang mati, tapi dia hidup. Victoria, dia adalah istriku yang aku nikahi 6 taun yang lalu. Dia mengalami kecelakaan 1 minggu yang lalu bersama bayi kami, saat dia akan pulang ke rumah orang tuanya di Pulau Jeju. Aku tak sanggup menahan dukaku saat dokter menyatakan bahwa anakku tak bisa di selamatkan. Dia adalah malaikat kecil bagiku dan Victoria istriku, 6 tahun kami menikah tapi kami baru di karuniai seorang anak saat usia pernikahan kami menginjak 5 taun. Aku benar-benar terpukul, aku kehilangan anakku yang baru saja berumur 1 taun kurang, dan sekarang istriku belum juga sadarakn diri semenjak kecelakaan itu. Dokter bialng dia terlalu banyak kehilangan darah, untung darah kakaknya sama dengan Victoria, jadi dia bisa mendonorkan darahnya untuk istriku. Aku ingin berteriak, aku ingin lari, aku tidak ingin makan, aku hampir gila, kenapa Tuhan memberikanku ujian berat seperti ini, tapi aku tidak boleh larut dalam keterpurukanku karna aku harus merawat Victoria sampai dia sembuh. Tapi aku benar-benar tidak tahu bagaimana aku mengatakan pada Victoria jika dia sudah sadarkan diri nanti, kalau dia sudah kehilangan anaknya? Tuhaaaannn…berilah aku kekuatan untuk menghadapi ujian-Mu ini, aku tidak tahu apakah aku sanggup menghadapinya??

“Nichkhun, kau makanlah dulu, biar aku yang menggantikanmu menjaga adikku” ucap Krystal kakak Victoria.

“Anhi…noona, aku tidak ingin makan, aku belum lapar”

“Tapi dari tadi aku belum melihatmu makan apapun, nanti kau sakit”

“Nanti saja aku makannya, sekarang aku benar-benar tidak ingin makan. Noona, kau pulang saja, biar aku yang menjaga istriku, aku sedang ingin berdua dengannya, apakah kau keberatan?”

“Kau yakin ingin sendirian di sini?”

“Ya, aku yakin”

“Hmm…baiklah, tapi kalau ada apa-apa cepat hubungi aku yah”

“Ne…hati-hati noona

“Ye…”

Flashback

“Yeobo..bagaimana kalau besok kita pergi ke rumah orang tuaku? Aku sangat merindukan ibuku?” ucap Victoria saat kami menjelang tidur.

“Besok?? Tapi besok aku ada meeting sayang, bagaimana kalau lusa saja??”

Anhia..aku ingin besok, bagaimana kalau besok aku mati? Mungkin lusa pun aku tidak akan bisa bertemu dengan ibuku lagi, jadi aku ingin besok”.

“Hei…kau ini bicara apa sih?”

“Kenapa? Apa aku salah bicara? Benarkan, kalau kita tidak akan pernah tahu kapan kita mati, jadi jika besok aku masih bisa bertemu dengan ibu, aku ingin besok juga menemuinya”

“Tapi besok aku benar-benar tidak bisa”
“Ya sudah, biar aku dan Kim Rae Im saja yang pergi, boleh kan?”

Andwae…Naima kan masih kecil, bagaimana kalau nanti dia rewel, apa kau sanggup menjaganya sendirian?”

“Yeobo..anak kita itu kan baik, dia tidak pernah rewel. Ayolaah, aku bisa menjaganya sendirian ko, aku kan ibunya. Jebaaaal, uh?”

“Ahhh..baiklah, baiklah, kau besok boleh pergi tapi hanya satu hari, ok?”

Neee..arasseo yeobo, gomawoyo…”

***

Victoria dan Naima anak kami, sudah pergi tadi pagi naik bis, aku sebenarnya sedikit tidak tenang membiarkan mereka pergi berdua, tapi mau bagimana lagi, Victoria terus merengek padaku untuk pergi dan aku juga memang benar-benar tidak bisa meninggalkan meeting-ku hari ini. Dan di tengah-tengah meeting , tiba-tiba perasaanku tidak enak, entah kenapa aku tiba-tiba teringat perkataan Victoria semalam. Meeting berlangsung cukup lama, hampir 3 jam dan aku sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menghubungi Victoria untuk menanyakan apakah mereka baik-baik saja. Dan akhirnya meeting pun selesai. Aku bergegas keluar dari ruangan meeting dan menelfon Victoria.

Chagia…apakah kau baik-baik saja?”

Ne…yeobo, waeyo? Kau tegang begitu?”

“Ah..anhia, syukurlah kalau kalian baik-baik saja. Bagaimana Naima? Apakah dia rewel?”

“Ah..iya yeobo, aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba rewel seperti ini, padahal kau juga tahu dia tidak pernah rewel. Dari tadi aku kasih susu juga tidak mau, aku tidak tahu sebenarnya dia kenapa”
“Sudah ku bilang padamu, bagaimana kalau nanti dia rewel. Ya sudah, kau ajak bicara apa saja supaya dia tidak rewel lagi, mungkin dia ngantuk nanti juga dia pasti tidur.”

Tidak ada jawaban lagi dari Victoria, aku sempat mendengar deguman yang sangat keras sekali di belakang Victoria.

“Victoria, Victoria…Gwaenchana?? Victoriaaaaa….Jawab aku….”

End of Flashback

Aku menangis lagi jika teringat kejadian itu, seandainya aku bisa menangkap cepat apa arti dari perkataan Victoria di malam sebelum kecelakaan itu, kalau dia bilang bagaimana kalau dia akan mati besok, itu adalah suatu pertanda buruk, mungkin aku tidak akan pernah mengijinkan mereka berdua pergi saat itu. Tapi aku berfikir,inilah takdir Tuhan, yang tidak bisa kita tolak. Aku memang tidak kehilangan Victoria, tapi ternyata aku kehilangan anakku satu-satunya.

Aku tidak sadar ketika aku menangis, air mataku menetes ke tangan Victoria, daaan…

“Yo..yeobo…” Victoria tiba-tiba memanggil namaku dan mulai menggerakan tangannya.

“Iya..sayang, ini aku. Syukurlah, kau sudah sadar?” ucapku sambil memeluknya.

“Ma..na an..ak kitttaa…?” tanya Victoria dengan terbata-bata.

“Tunggu sebentar yah, aku panggilkan dokter dulu” aku coba untuk menghindar dari pertanyaan Victoria

Setelah dokter selesai memeriksa Victoria, dia langsung bertanya lagi di mana Naima dan di situlah saat yang paling sulit dalam hidupku, aku harus memberitaukan istriku kabar buruk di saat kondisi dia yang baru saja lolos dari mautnya.

“Yeobo…kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku, di mana anak kita? Di mana Naima? Dokter tolong jawab aku, di mana anakku?”

***

Beberapa minggu berlalu, Victoria masih tidak bisa percaya, kalau dia sudah kehilangan anaknya. Saat aku beritahu kalau Naima tidak bisa di selamatkan saat kecelakaan bersamanya, dia menjerit histeris bahkan sampai pingsan berkali-kali. Aku sedih melihatnya seperti itu, keadaan ku pun masih tidak percaya menerima kenyataan itu. Tapi aku berusaha untuk menenangkan Victoria dan meyakinkan dia bahwa ini mungkin yang terbaik untuk Naima, karena mungkin sekarang dia sudah beristirahat dengan tenang di surga sana. Aku dan Victoria harus tetap menjalani hidup kami ke depan, biar jasad Naima tidak ada, tapi cintanya akan selalu tetap hidup di hati kami.

2 taun kemudian….

“Uo…uoo..”

Chagia..kau kenapa?? Kau tidak apa-apa??” tanyaku pada Victoria yang saat itu tiba-tiba muntah-muntah di tengah makan malam kami untuk saat merayakan 8 tahun usia pernikahan.

Mollayo…tapi aku benar-benar mual sekali”

“Kalau begitu sebaiknya kita pulang saja, makan malamnya kita lanjut lain kali saja”

Andwae….aku tidak apa-apa yeobo, mungkin hanya masuk angin saja”

Anhi..pokoknya kita harus pulang, aku tidak inginkau sakit”

“Tapiiii…”

“Dengarkan aku kali ini, sayang. Ayo kita pulang”

Ne..arasseo

Sampai 3 hari berturur-turut Victoria terus merasakn mual, sampai akhirnya aku curiga saat dia tiba-tiba minta di belikan rujak di Indonesia. Dia bilang dia melihat di acara TV saat ada wisata kuliner ke Indonesia. Omoooo..haruskah aku ke Indonesia jauh-jauh hanya untuk membeli rujak?? Dan akhirnya aku menyarankan Victoria untuk memeriksa ke dokter.

“Selamat..kalian berdua akan menjadi appa & eomma” kata Dokter yang memeriksa Victoria saat itu.

Mwo??Choengmalia?”

Ye..chukkae

“Ya..Dokter terima kasih. Ahhh..yeobo kau dengar itu?? Kita akan menjadi appa & eomma lagi” ucap Victoria bahagia.

“Ya kau benar, kau akan menjadi seorang ibu lagi”

“Ye…dan kau akan menjadi appa

Aku benar-benar bahagia, saat mendengar bahwa Victoria akhirnya bisa hamil lagi. Aku berharap kami bisa menjaga anak kami nanti baik-baik. Yah, dan karna sekarang aku sudah tahu kenapa tiba-tiba Victoria ingin rujak Indonesia karna dia sedang mengidam, aku akan mengabulkan permintaannya. Apapun yang Victoria minta, walaupun harus aku cari ke ujung dunia, aku akan mengabulkannya karna ini demi anakku juga.

Hari ini aku terbang ke Indonesia dengan penerbanangan pagi hari dan aku sampai di Indonesia sekitar pukul 12. Sesampai di bandara aku langsung naik Taksi, karna aku tidak bisa bicara bahasa Indonesia, jadi aku berfikir pada malam sebelum aku pergi, aku men-translate apa yang akan aku katakan dan aku menulisnya di kertas. Jadi saat aku naik Taksi, aku langsung memberikan kertas itu pada supirnya. Dan supir itu langsung menganggukan kepalanya mungkin tanda dia mengerti ke mana tujuanku dan dia juga mengerti kalau aku tidak bisa bicara dalam bahasa Indonesia. Hanya sekitar 1 jam setengah perjalanan dari bandara ke tempat di mana aku harus membeli rujak yang di maksud Victoria. Aku menyuruh supir taksi itu untuk membeli rujaknya, karna aku tidak tahu nanti harus bicara apa, Fiuh..kalau bukan karna Victoria mungkin aku tidak akan jauh-jauh ke sini hanya untuk membeli rujak. Tapi di pikir-pikir Indonesia sepertinya menyenangkan juga, orang-orangnya sangat ramah. Benar kata orang-orang yang selalu aku dengar, mereka bilang kalau orang-orang Indonesia itu ramah-ramah dan ada satu tempat yang paling banyak di kunjungi oleh wisatawan dari luar negeri, Bali. Yah, Bali kata orang-orang tempat itu sangat indah. Mungkin kapan-kapan aku akan mengajak Victoria liburan ke sana bersama anak kami nantinya karna semenjak kami kehilangan anak kami, aku dan Victoria sudah tidak pernah berlibur bersama lagi.

Selesai membeli rujak yang Victoria inginkan, aku langsung kembali terbang ke Korea. Untungnya perjalanannya hanya membutuhkan beberapa jam saja.

“Chagiaaa…lihat apa yang aku bawa untukmu” ucapku pada Victoria saat sampai di rumah

Omooo..yeobo, kau benar-benar membelimya??”

“Ya..kan kau yang minta, karna kau sedang hamil, jadi aku harus membelikan apapun yang kau minta”

“Oh..so sweet, kau baik sekali sayang, gomapsumnida” ucapnya manja sambil memelukku.

“Tapi sayang, bagaimana kau bisa membelinya? Memangnya kau bisa berbahasa Indonesia?”

Anhi..kau ingin tahu dengan apa aku berkomunikasi dengan mereka?”

“Mwo?”

“Dengan iniiii..” jawabku sambil menunjukkan kertas yang tadi aku tunjukkann ke supir taksi.

“Hahahhaha..cheongmal??? Kapan kau menulisnya?”

“Tadi malam, karna aku tidak bisa fasih membacanya, jadi aku tulis saja saat aku translate tadi malam, hehe…”

“Hahaha…ide suamiku cemerlang juga”

Aku sangat bahagia, bisa melihat Victoria bisa tertawa lepas seperti itu lagi. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya seperti itu, yah mungkin sejak dia kehilangan anaknya, dia tidak pernah tertawa lagi. Dan hari ini aku benar-benar bahagia bisa membuatnya tertawa lagi.

***

29 November 2010, anak kami lahir dengan selamat. Bayi laki-laki yang kami beri nama Kevin Buck Horvejkul, dia sangat tampan sepertinya ayahnya, hahha… Aku dan Victoria benar-benar merasakan kebahagiaan ini, sekarang aku percaya kalau rencana Tuhan itu pasti lebih indah dari apapun, dulu kami kehilangan anak kami, tapi sekarang Tuhan menggantinya lagi dengan menghadiahkan Kevin untuk kami. Dan dengan kekuatan cinta, aku dan Victoria akhirnya bisa melewati setiap ujian yang Tuhan berikan dengan baik dan dengan akhir yang indah. Terima kasih Tuhan…..;)

~ Happy Ending ~

Author Note : Jangan pernah menyesali ketika Tuhan mengambil apa yang kamu miliki atau kamu sayang, karna sesungguhnya apapun yang kita miliki pasti akan kembali pada-Nya dan yakinlah di saat ada yang pergi pasti akan ada yang datang….AJA AJA FIHGTING…

One thought on “[FICLET] The Greatest Love – Khuntoria Couple

DON'T be SIDER PLEASE....Your Comment is My Oxygen...^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s