[ONESHOOT] Missing You In The Rain – Khuntoria Fanfiction

Title : Missing You In The Rain

Author : cherry_blossom a.k.a r13eonnie

Main Cast : Nichkhun Buck Horvejkul & Victoria Song…KHUNTORIA FOREVER…

Genre : Sad Romance, Angst

Rating : PG-13

Type : Oneshoot

Lenght : 3270 Words

Disclaimer : PLOT AND STORY IS MINE…FF ke lima author yang Main castnya Khuntoria…

Big Thanks to Jisankey for Beautiful Poster..;)

.:NO SIDER..NO PLAGIATOR..NO BASHING :.

o.O.o.O.o.O.o.O.o

cherry_blossom © 2012 PRESENTS

“Kau belum pulang?” dia berlari menghampiriku yang sedari tadi menunggu di Halte Bis.

“Belum, aku lupa membawa payungku hari ini” jawabku mengerucutkan bibir.

“Memang sampai kapan kau akan berdiam diri di sini? Sampai hujannya reda? Kau bisa sampai rumah besok kalau kau menunggu hujan reda” dia mengacak-ngacak rambutnya yang basah dan jujur aku sempat terpesona melihatnya jika sedang kebasahan seperti itu. Ehm, sedikit seksi, hehehe…;)

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Daritadi aku menunggu Bis tapi tidak ada satupun yang lewat” ujarku sendu.

“Hanya ada satu cara” dia menatapku penuh arti.

Mwo?” aku membusungkan kepalaku ke arahnya.

“Ayo ikut denganku” tanpa memberi aba-aba dia menarik tanganku.

“Ya, Khunnie-ah, lepaskan tanganku. kau sudah gila yah? Aku bisa sakit kalau terkena hujan” aku mencoba menarik tanganku, tapi tenaganya lebih besar dariku dan aku hanya bisa pasrah karena tubuhku sudah terlanjur basah kuyup sekarang.

“Siapa yang mengatakan itu? Kau tahu, bermain hujan itu sangat menyenangkan” teriaknya padaku dengan tangannya yang masih menggenggam tanganku erat. “Wuuuu….” dia mengajakku berlalri sekarang di tengah hujan yang sangat deras.

Hari itu aku sedang menunggu Bis sepulang kuliah, aku tidak bisa pulang karena terjebak hujan dan aku lupa membawa payungku. Tiba-tiba dia menghampiriku dan menarik tanganku ke tengah hujan yang sedang deras-derasnya mengguyur bumi. Ibuku selalu ketakutan jika aku kehujanan, karena sejak kecil aku pasti sakit jika terkena hujan sedikit saja. Tapi, hari itu aku baru tahu kalau bermain dengan hujan itu ternyata memang sangat menyenangkan dan dialah yang sudah mengajariku bagaimana cara menikamti hujan.

***

“Khunnie-ah, lihat langitnya sudah mulai mendung. Sebentar lagi pasti akan turun hujan” teriakku padanya yang sedang asyik bermain Basket di lapangan kampus kami.

“Memangnya kenapa?” dia menghentikkan men-Dribble bolanya dan menatap ke arahku sekarang.

“Aku akan membiarkan tubuhku terkena hujan sekarang”

“Hah? Sejak kapan kau menyukai hujan?” teriaknnya kembali melanjutkan dengan permainan Bsketnya.

“Sejak kau memberitahuku kalau bermain dengan hujan itu sangat menyenangkan” aku menghampirinya. “Ahhh…hujannya sudah turun. Ayo cepat kita bermain dengan hujan lagi” aku menarik tangannya dan mengajaknya berputar-putar denganku di tengah lapangan.

Hujan kedua yang ku lewati bersamanya, menyenangkan. Terlebih lagi, karena aku menikmatinya bersama orang yang sangat ku cintai, Nichkhun Buck Horvejkul.

***

“Vic…” dia yang berjalan di belakangku saat kami pulang bersama menyusuri jalan setapak, memanggilku.

Mwo?” dan aku menoleh ke arahnya.

Namun saat aku menoleh ternyata dia menyiprati wajahku dengan air hujan yang sudah ia bendung dengan kedua tangannya.

“Ah, ya Khunnie-ah, kau mau bermain denganku, huh? Baiklah kemari kau bodoh” teriakku mengejarnya yang sudah berlari dari hadapanku.

“Haha…ayo cepat kejar aku kalau kau bisa” tantangnya semakin mempercepat larinya.

“Tenang saja, aku sangat ahli dalam urusan lari dan aku pasti bisa menangkapmu” aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk mengejar kecepatan larinya.

Itu hujan ketiga aku dan dia bermain di tengah hujan dan saling kejar-kejaran. Tidak di sangka tenagaku ternyata benar-benar kuat, aku bisa lari dengan kencang dan berhasil menangkapnya. Dia juga cukup terkejut karena baru kali itu dia di kalahkan oleh seorang wanita dalam urusan lari-larian.

***

“Khun-ah, ayo kita bermain gunting, batu, kertas denganku. Siapa yang kalah maka dia harus menggendong orang yang menang sampai ke rumah” ucapku menantangnya saat kami baru keluar dari gerbang kampus, tentunya saat ini sedang turun hujan.

Mwo?” dia terkejut mendengar tantanganku.

Wae? Kau takut, huh?” aku mendelik tajam ke arahnya.

“Bukan takut bodoh, aku hanya tidak ingin membiarkanmu menggendongku sampai ke rumah” dia menjitak pelan kepalaku. “Kau tahu jarak dari sini sampai ke rumah kita itu masih sangat jauh, shirreoyo” dia menggeleng-geleng menolak.

“Errrr…jadi maksudmu kau sudah yakin kalau kau akan menang?”

Geureomyeon” ucapnya penuh percaya diri.

“Tch…percaya diri sekali kau ini Tuan Buck. Baiklah kalau begitu ayo kita buktikan saja” aku mendecak sebal. “Gunting, batu, kertas” aku memulai memainkan permainan itu.

“Kau yakin akan kuat menggendongku sampai rumah? Kau tahu, hari ini aku sudah makan 4x jadi berat badanku pasti sudah naik 2 Kg, lalu kalau di tambah…” dia berceloteh tidak jelas dan aku langsung menyela ucapannya.

“Aish, kau ini sudahlah aku tidak peduli berat badanmu akan naik berapa Kg, ayo cepat kita mulai” aku mengambil aba-aba untuk memulai lagi permainan itu. “Gunting, batu, kertas…Gunting, batu, kertas…” ucapku semangat.

Omo…omo…kenapa dadaku berdegup kencang? Aku benar-benar takut kalau aku menang” ucapnya peraya diri sembari memegangi dadanya, rasanya aku ingin sekali menjitak kepalanya.

“Ish…ayo cepat lagi”

“Gunting, batu, kertas” ucap kami bersamaan.

“Ooohh…eottheokhae?” dia menarik tangannya dan bergaya seolah merasa bersalah. “Sudah ku bilang pasti aku menang” dia memeluk tanganku manja.

Ara…ara…ayo cepat naik ke sini, kau tahu aku ini adalah wanita yang kuat”

Anhi…anhi, mana mungkin aku membiarkan gadisku menggendong tubuhku. Sini, biar aku saja yang menggendongmu”

“Sudah jangan banyak bicara, ayo cepat” aku membungkukkan tubuhku dan menarik tubuhnya untuk naik ke punggungku.

“Yayaya…” dia sempat meronta namun dengan cepat aku mengapit kakinya oleh kedua tanganku.

“Bagaimana? Tubuhku sangat berat, kan?” tanyanya saat tubuhnya sudah dengan nyamannya hinggap di punggungku.

Anhio, malah tubuhmu sangat ringan. Ya Khun-ah, kau tidak boleh kurus”

Mwo? Kau bilang badanku sebesar ini kurus?”

“Eum…ah sudahlah jangan banyak bicara” aku membenarkan posisi tubuhnya yang sedikit miring.

“Oh ya, kau tahu ini pertama kalinya aku di gendong oleh seorang wanita

“Benarkah?”

“Eum..ternyata kau lebih kuat dari yang ku bayangkan”

“Haha..maka dari itu kau jangan pernah meremehkan kemampuanku, hehe…” aku mengeluarkan evil smile-ku.

Stop…stop…” teriaknya tiba-tiba saat perjalanan kami baru 300 meter jauhnya.

Mwo? Waeyo?” Kita belum sampai rumah, sudah diam jangan banyak bergerak nanti kau jatuh”

“Aku bilang stop, aku mau turun” ucapnya lalu turun dari punggungku.

“Ya, ada apa?” bentakku.

“Sekarang giliranku yang menggendongmu” dia jongkok dan menarik tubuhku untuk naik ke punggungnya.

Mwo? Hei…” aku belum sempat menolak tapi dia sudah berhasil membuat tubuhku berada di punggungnya sekarang.

“Hehehe..bukankah begini jauh lebih baik” dia terkekeh dan menahan tubuhku dengan kuat.

“Tch…” aku mendecak namun akhirnya aku melingkarkan kedua tanganku ke lehernya, nyaman juga, pikirku.

“Hmm..ternyata tubuhmu sangat ringan, aku kira kau akan berat”

“Hei, apa maksud dari ucapanmu itu, huh?” tanyaku sinis.

Waeyo?” Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya mengatakan yang sebenarnya kalau tubuhmu memang ringan”

“Dalam waktu tiga hari ini, tubuhku naik 3 Kg. Mana mungkin aku bisa ringan”

“Sudahlah tidak peduli kau ringan atau berat yang penting aku akan tetap mencintaimu” ucapannya barusan mampu membuatku hampir meneteskan air mata karena terharu.

“Sekarang ayo kita pulaaaaang” ujarnya sambil berlari dengan tubuhku yang masih ada di atas punggungnya.

“Yaaaa, Khunnie-ah, hati-hati aku bisa jatuh bodoh” protesku memukul punggungnya cukup keras.

“Hehehehe…” si bodoh itu hanya tertawa tanpa dosa.

Hujan berikutnya, hujan yang paling indah bagiku. Hari itu aku merasa aku semakin mencintainya. Yah, Nichkhun benar-benar berhasil mencuri hatiku selama beberapa bulan terakhir ini. Hari itu, rasanya aku ingin menghentikan waktu agar tidak berakhir dan aku ingin mengulang dan mengulang lagi saat-saat aku melewati hujan bersamanya karena yang aku rasakan saat ini adalah luka ketika hujan selanjutnya menjadi hujan terakhir yang aku lewati bersamanya.

***

“Khun-ah, maaf aku terlambat” aku mengecup pipinya saat kami janjian untuk bertemu di sebuah taman. “Tadi jalanannya macet” sambungku lalu duduk di sebelahnya.

“Gwaenchanayo” jawabnya ringan.

“Khunnie-ah, waeyo?” Kenapa mukamu tidak bersemangat seperti itu? Apa kau marah padaku karena aku terlambat?” aku mengamati wajahnya yang sedikit pucat.

Anhio, bukan karena itu sungguh aku tidak marah. Oh ya, hari ini kau mau ke mana? Biar aku menemanimu ke manapun kau mau pergi”

“Errr..ada apa ini? Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu? haha…kau ini seperti orang yang mau pergi jauh saja” aku tertawa sambil menepuk-nepuk bahunya.

“Katakan saja kau mau ke mana, hari ini aku akan menjadi Nichkhun yang penurut” ujarnya memberi pijitan di lenganku.

Omoo…hei apa kau sudah salah makan? Ada apa denganmu hari ini? Kau aneh sekali” aku menatapnya curiga. “Tunggu, apa kau sakit? Kau sakit apa? Katakan padaku” ucapku tiba-tiba cemas dan mengamati wajahnya, takut kalau dia sedang sakit.

“Sudah ku bilang aku tidak apa-apa, ayo cepat katakan kau mau ke mana sebelum aku berubah pikiran”

“Eum…baiklah, kalau begitu aku ingin ke Namsan Tower. Kemarin, aku melihat acara We Got Married dan pasangannya pergi ke Namsan tower, hari ini aku juga ingin ke sana”

“Baiklah kalau begitu kita pergi ke sana sekarang” dia bangkit dan menarik tanganku.

“Tunggu, tapi aku ingin kita juga menulis pesan cinta untuk di taruh di pagarnya. Tapi kita tidak punya gemboknya, eottheokhae?”

“Yah, kalau begitu sekarang kita pergi membeli gemboknya setelah itu kita ke Namsan Tower”

Ne…” jawabku semangat sambil mengayun-ngayunkan tanganku dengan tangannya yang saling bertaut.

***

“Kau tulis duluan” ujarnya padaku saat kami sudah berada di atap Namsan tower dan memegang kertas yang akan kami tulis.

“Kau saja yang tulis duluan” aku menyerahkan kertas itu padanya.

Ladies first” dia menoyodorkannya kembali padaku.

“Errr..baiklah aku yang tulis duluan” jawabku mulai menulis sesuatu di kertas itu dengan serius. “Selesaiii…” aku mengangkat kertas itu setelah selesai menulisnya. “Lihat punyaku, aku menulis “Pabo Nichkhun adalah milikku”, hehe…bagaimana, kau suka?” aku memiringkan kepalaku menatapnya.

“Yah, aku suka, gomawo” jawabnya tersenyum tipis dan mengacak-ngacak rambutku. “Sekarang giliranku” dia mengambil kertas itu dariku, dia menulisnya dengan sangat serius.

“Apapun yang terjadi aku akan selalu mencintaimu. Oh so sweet….” aku membaca apa yang di tulisnya di kertas itu dan aku memegang pipiku yang panas karena merona. “Benarkah apa yang kau tulis ini? Apapun yang terjadi kau akan selalu mencintaiku?” tanyaku memastikan.

“Eum…” dia mengangguk yakin.

“Baiklah aku percaya, kalau begitu aku ingin kau juga melakukan satu hal untukku”

“Apa?”

“Jangan pernah tinggalkan aku, apapun yang terjadi, eoh?” aku menatapnya dalam.

Dia tidak menjawab, dia membisu sambil memandang mataku.

“Setelah ini kau mau ke mana lagi? Bagaimana kalau kita naik kereta gantung?” ucapnya tiba-tiba bangkit mengalihkan pembicaraan dan menenteng tas tanganku.

“Ya, Khunnie-ah kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” teriakku mengejar langkahnya namun dia seolah tidak menghiraukan ucapanku tadi.

***

“Huaaa…sudah lama sekali kita tidak naik ini, ternyata tidak banyak yang berubah sejak terakhir kita ke sini tiga bulan yang lalu, iya kan?” tanyaku antusias saat kami sudah berada di dalam kereta gantung.

“Eum, kau benar” jawabnya singkat dan memandang ke arah jendela.

“Ya, Khun-ah, kau ini sebenarnya kenapa, huh? Apa kau ke sambat setan? Atau kau benar-benar salah makan sesuatu? Kenapa hari ini kau tidak seperti biasanya? Dan dari tadi mukamu itu masam sekali, kau juga belum tersenyum untukku” aku mendengus kesal memalingkan pandanganku darinya.

“Aku tidak apa-apa, sungguh. Baiklah sekarang aku akan tersenyum. Ayo cepat sini lihat aku” ucapnya menarik wajahku untuk melihat ke arahnya.

Shirreoyo” aku menolak dan memalingkan lagi wajahku.

“Vic, lihat” teriaknya tiba-tiba.

Dengan refleks aku menoleh ke arahnya dan ternyata dia menaruh telunjuknya di pipiku, sehingaa saat aku menoleh telunjuknya sedikit menusuk pipiku.

“Ya, kau kekanak-kanakkan sekali” bentakku cukup keras.

Wae? Bukankah Victoriaku menyukai hal-hal yang kekanak-kanakkan?” jawabannya membuatku mati kutu.

“Oh ya setelah ini kau ingin ke mana lagi?’

“Aku lapar, aku ingin makan” jawabku memegangi perutku yang sudah mulai keroncongan.

“Baiklah, lalu kau ingin makan apa?”

Samgyeopsal” jawabku semangat.

Ara…ara, setelah ini kita makan Sampgyeopsal

***

“Woaaa,,,lezatnya” ucapku antusias, sekarang kami sudah berada di tempat makan dan beberapa Menu makanan yang kami pesan sudah ada di hadapan kami dan tentunya Menu special kami adalah Samgyeopsal karena itu adalah makanan kesukaan kami berdua.

“Selamat makan” ujar kami bersamaan siap menyantap makanan kami.

“Aaaa…” dia memberikan Samgyeopsal yang sudah dia siapkan untuk di suapi padaku dan aku langsung menerimanya dengan senang hati.

“Eum,,,,yummy” ucapku menggoyang-goyangkan tubuhku ke kanan dan ke kiri dengan antusias, itulah caraku mengekspresikan kesengananku jika menyantap makanan enak.

“Ternyata kau benar-benar sangat mencintai Samgyeopsal”

“Eum, tentu ini adalah makanan Korea kesukaanku, hehe…” jawabku sambil menyiapkan Samgyeopsal yang akan aku suapkan padanya. “Khun-ah, aaa…” ucapku memberikan Samgyeopsal di tanganku padanya.

“Beunar-beunar enhak, rhasanyah tida akkan penah beubah” ucapnya sedikit tidak jelas karena mulutnya yang kepenuhan dan aku terkekeh melihatnya.

***

“Aahhh..kenyangnya. Khun-ah, sepertinya aku tidak akan sanggup lagi untuk bermain. Perutku sudah kekenyangan, kau lihat perutku sudah semakin mengembang” ucapku memegangi perutku yang semakin membuncit karena kenyang.

Anhio, masih ada satu tempat lagi yang harus kita kunjungi”

“Eh?” aku mengernyit tidak mengerti.

Kajja…” dia menarik tanganku cepat.

“Ya Khun-ah, kenapa ke sini? Apakah kita mau pulang?” tanyaku bingung karena ternyata tempat yang di maksud olehnya adalah Halte Bis yang biasa kami datangi setiap kali kami menunggu Bis bersama setiap pulang kuliah. Dan Halte Bis itu adalah saksi cinta kami karena awal pertemuan kami adalah di Halte Bis itu.

Anhi, aku hanya ingin diam di sini saja sambil menunggu turun hujan” jawabnya santai lalu duduk di kursi Halte itu.

“Eh?? Jadi kau mengajakku ke si hanya untuk menunggu hujan?”

Ne…” jawabnya menatap langit yang akan mulai berganti menjadi petang.

Tiga jam kami menunggu di Halte Bis itu tanpa kata, yah kami berdiam di sana bukan untuk menunggu Bis tapi untuk menunggu turun hujan, sangat aneh bukan? Tapi aku lebih merasakan keanehan ketika kami tidak biasanya bisa duduk bersebelahan tanpa bicara sepatah kata pun.

“Sepertinya hari ini tidak akan turun hujan, sebaiknya kita pulang saja sudah malam” dia melirik jam tangannya sekilas lalu bangkit.

“Khun-ah, katakan padaku yang sebenarnya” ucapku tiba-tiba tanpa menatapnya. Entah apa yang merasuk ke dalam tubuhku, sehingga membuatku merasakan ada sesuatu yang akan terjadi setelah ini.

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti”

“Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi denganmu?” aku bangkit lalu menatapnya tajam.

“Hari ini kau seperti bukan Nichkhun yang biasanya. Aku tahu kau pasti sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan? Katakanlah, aku tidak akan marah”

Dia terdiam, seolah sedang memikirkan sesuatu.

Opseo…aku tidak menyembuyikan sesuatu apapun darimu,sungguh”

“Benarkah?” aku mendekatkan wajahku ke wajahnya untuk memastikan dari matanya dan sekarang mata kami hanya berjarak satu centi meter. “Tapi matamu mengatakan yang sebaliknya, Mr. Horvejkul” ucapku dingin masih menatap matanya dalam.

“Sudah malam, eomma-mu pasti mencarimu, kita pulang saja” dia mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menarik tanganku.

“Aku tidak akan pulang kalau kau belum mengatakannya padaku” aku menarik tanganku kasar dari genggamannya.

Dia terkejut dan sekarang gilirannya yang menatap mataku dalam.

“Apa kau benar-benar ingin aku mengatakannya padamu?” tanyanya serius.

“Ya, katakan saja” jawabku dingin.

“Apapun itu? Meskipun itu adalah sesuatu hal yang akan membuatmu terluka?”

Aku terhenyak, dadaku tiba-tiba terasa sesak. Meskipun aku tidak tahu apa yang akan di katakannya, tapi aku merasa itu adalah sesuatu hal yang sangat serius dan bisa membuatku rapuh.

Ne…” sebisa mungkin aku menjawabnya dengan tegar.

“Sebaiknya hubungan kita sampai di sini saja” ucapnya ringan tanpa keraguan.

Aku memang belum pernah merasakan bagaimana rasanya tersambar oleh petir, tapi ucapannya itu membuatku seperti di sambar oleh petir yang sangat keras. Tubuhku hampir lunglai karena tidak menyangka dengan apa yang dia ucapkan, tapi aku berusaha untuk tetap bisa berdiri tegak di hadapannya.

“Tch, semudah itukah kau mengatakan hal itu? Bahkan kau tidak terlihat sedih mengatakannya, apakah ini sudah kau rencanakan jauh-jauh hari?” jawabku ketus.

“Ah, jadi hari ini kau mengajakku ke tempat-tempat yang ingin aku kunjungi, makan Samgyeopsal bersama dan datang ke tempat ini, karena kau ingin mengatakan semua ini padaku? Kau benar-benar membuatku seperti orang bodoh, Nichkhun Buck”.

“Ya kau benar, aku sengaja melakukan semua itu untuk megatakan semua ini padamu, puas?” ucapnya tajam tapi dengan tatapan yang sangat lembut seperti biasanya. Membuatku hampir mati kebingungan, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengannya? Aku yakin, dia pasti memiliki alasan yang kuat untuk melakukan semua itu, tapi apa??

“Baiklah, terserah kau saja. Mulai sekarang, hubungan kita benar-benar berakhir. Kalau begitu, jika kita bertemu anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita selama 6 bulan ini. Aku akan melupakan semuanya, permisi” ucapku santai dan berlalu. “Ah, aku lupa. Terima kasih untuk semuanya, kalau niatmu untuk mendekatiku selama ini hanya karena kau ingin menyakitiku seperti ini, selamat kau sudah berhasil Tuan Nichkhun, permisi” aku membungkuk untuk yang terakhir kalinya sebelum aku benar-benar pergi dari hadapannya.

Hujan, saat aku melangkah beberapa langkah darinya, hujan deras akhirnya turun. Dan hatiku yang seolah tidak bisa merasakan apa-apa selain kesakitan yang teramat sangat, tetap melanjutkan langkahku untuk pergi meninggalkannya di Halte Bis yang penuh dengan kenangan itu. Jika aku tidak mengingat saat dia bisa dengan santai mengatakan kata pisah padaku, mungkin aku sudah menjatuhkan tubuhku ke jalan yang ku pijak saat ini. Tapi, aku tidak ingin terlihat lemah di hadapannya. Biarlah semua kelemahanku ini, hanya aku yang tahu.

“Victoria tunggu…” samar-samar aku mendengarnya berteriak memanggil namaku tapi aku tidak ingin menghiraukannya.

“Bodoh, jangan menangis. Kau masih bisa hidup tanpanya Victoria” gumamku menguatkan diriku sendiri dan mengusap mataku yang basah, basah karena air mataku ternyata tidak bisa di bendung lagi dan kini bercampur dengan air hujan yang semakin membasahiku.

Dia yang ternyata sudah berada tepat di belakangku, tiba-tiba menarik tubuhku keras dan menjatuhkannya ke dalam pelukannya.

“Lepaskan…bukankah sekarang kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi? Kau sudah tidak punya hak lagi untuk memelukku” aku mencoba untuk memberontak dan melepaskan pelukannya, tapi entah kenapa tenagaku yang berkurang atau tenaganya yang sangat kuat untuk menahanku dalam pelukannya, akhirnya aku tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan pasrah di peluk olehnya.

“Sebentar saja, hanya sebentar saja aku ingin melakukan ini padamu” bisiknya tepat di telingaku dan semakin mengeratkan pelukannya.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkannya terus memelukku. Dan bodohnya aku yang tidak bisa menahan lagi air mataku, membuatku menangis di hadapannya untuk pertama kalinya.

“Aku terpaksa melakukan semua ini, aku harap kau bisa mengerti keadaanku. Kau cukup percaya saja dengan apa yang aku tulis saat di Namsan Tower tadi, aku akan selalu mencintaimu apapun yang terjadi” dia melepaskan pelukannya dan mengatakan sesuatu yang benar-benar membuatku tidak mengerti.

“Kau ini bicara apa? Aku benar-benar tidak mengerti”

“Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai sakit. Mulai sekarang kau jangan terkena hujan lagi, aku tidak mau kau jadi sakit”

Aku tidak menjawab, karena sungguh aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Yang ada, aku ingin sekali memukul kepalanya dengan keras agar dia mau mengatakan yang sebenarnya padaku.

“Aku pergi” dia mencium keningku lama, kemudian menempelkan keningnya dengan keningku. Dan lagi-lagi bodohnya aku, tidak berusaha untuk mengelak dan membiarkannya melakukan hal itu padaku setelah apa yang di ucapkannya tadi membuat hatiku benar-benar sakiiit.

Lalu dia pergi begitu saja tanpa memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi. Langkahnya semakin menjauh dan aku masih berdiri di tempatku dengan tubuhku yang mulai menggigil karena kedinginan. Aneh, tidak biasanya aku menggigil seperti ini. Setiap kali aku bermain hujan dengannya selama apapun itu, aku akan kuat dan tidak akan menggigil, tapi kali ini tubuhku benar-benar menggigil.

“Khun-ah…Khunnie-ah…” aku baru tersadar dari lamunanku dan aku melihat dia naik ke dalam Bis yang melintas, aku berteriak memanggil namanya dan mengejar Bis itu dengan tenaga yang masih tersisa . “Jangan pergiiii, kau harus mengatakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Nappeun namja, kau tega meninggalkanku begitu saja seperti ini, huh? Kau pengecut Khunnie-ah, kau pengecut. Bagaimana aku bisa percaya dengan ucapanmu jika kau meninggalkanku tanpa alasan yang jelas seperti ini? Cepat turun, cepat turun Khunnie-ah…” tubuhku semakin melemah dan akhirnya tubuhku terkulai lemah dan jatuh ke aspal, dengan hujan yang masih mengguyur tubuhku tanpa henti.

Kajima Khun-ah, kajima…” ucapku lemah memandang Bis yang semakin menghilang dari pandanganku.

Itu adalah hujan terakhir yang ku lewati bersamanya, hujan terakhir yang masih menyimpan misteri bagiku karena sampai saat ini aku masih tidak tahu apa alasan sebenarnya dia memutuskan untuk meninggalkanku. Satu tahun berlalu semenjak kepergiannya di tengah hujan saat itu dan kini aku hanya bisa melewati hujan sendirian, tidak ada lagi tawanya, tidak ada lagi senyumannya, tidak ada lagi keceriaannya dan tidak ada lagi sosoknya yang akan selalu berada di sisiku setiap kali turun hujan.

Khun-ah, jika saat itu adalah hujan terakhir yang aku lewati bersamamu, mungkin aku akan menyadarinya lebih awal ketika sikapmu yang lain dari biasanya. Karena kini, setiap hujan turun aku hanya bisa menikmati kenangan-kenangan saat-saat bersamamu dan itu membuatku semakin merindukanmu. Kau di mana? Aku mohon pulanglah, aku merindukanmu dan sangat kehilanganmu

~ A moment lasts all of a second, but the Memory lives on Forever ~

END

15 thoughts on “[ONESHOOT] Missing You In The Rain – Khuntoria Fanfiction

    • hehehehe,,psti pd penasaran yah khunnya knp ninggalin ic,,,hihihi..iya deh nti d bkin sequelnya biar pd tw khun sbnernya knp,,hehe…tp gx jnji bs dlm wktu dkt ini,,ohohoho…mksih ia de uda baca ff ka…^^

  1. jinjjayo? woahh gumawoyo eonn udah mau d buat sequel ..😀 Kalo bisa happy end ya eonn please😦 gak apa , aq tungguin ko eonn ..

  2. Ka… sequel nya blm ada ya??😦
    di tungggu bgt yaa ka… kangen mreka soalnya😀
    oh iya ka boleh request ga?
    ntar kalo kaka pnya waktu luang truz mo bwt ff kalo bisa ceritanya our khuntoria itu yg real,mksud nya kaya kelanjutan hubungan mreka shabis wgm gitu heuheu..
    mian ka banyak minta #di gorok ka2

    • ia blm ada de,,,uda d buat sih konsepnya tp mood bwt nulisnya blm ada,,apalagi skr ka lg dpt cobaan, jdinya gkn dpet feelnya..;(

      uda ada ko ide itu de, mlh uda ka save draft d hp, jd nti ka mulai dr pas mrka plg dr last episode mrkanya gtu,,cm ya blik lg, mood ka nya blm ada btw ngetiknya…TT___TT

DON'T be SIDER PLEASE....Your Comment is My Oxygen...^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s